Aku dan Kesedihanku

 

Aku adalah kata ramah yang diucapkan berulang-ulang oleh suara alam ; Aku adalah bintang yang jatuh dari langit biru ke permadani hijau dan Aku adalah putera segala musim. Di waktu fajar aku menyatu dengan bayu untuk bersama-sama mengirimkan berita bahwa tibanya cahaya. Dan di waktu senja Aku bergabung bersama burung-burung yang akan mengumumkan telah pamitnya cahaya.

Aku adsalah hadiah dari sang kekasih, Aku menjadi penyemarak pada saat yang membahagia. Dan kini, aku adalah hadiah terakhir dari yang hidup…….. kepada yang telah pergi. Aku kini menjadi harapan terakhir dari yang masih tersisa.

Aku adalah sebagian dari sukacita dan juga sebagian dari dukacita. Akan tetapi, Aku selalu melihat keatas agar melihat cahaya selalu, melulu. Aku sering sekali mendengar suara burung-burung berkicau dengan lantang mengungkapkan segala kesedihannya. Aku sering sekali melihat di menanngis karena kesedihannya sehingga ikut bangkitlah kesedihannku. Seringkali tangisnya membuatku terjaga dan sering  juga tangisku yang membuatnya terjaga. Sungguh, kadang kala dia mengeluhkan segala kesedihannya namun sayang aku tidak dapat memahami keluhan-keluhannya sama ketika aku mengeluh diapun tak dapat memahami keluhanku. Namun, ada satu bahasa yang sama yang menjadikan Aku sangat akrab dengannya, kesedihan dan kerinduan.

Betapa dekatnya jaraku dengan berbagai macam kesedihan, ketika aku panggil kesabaran dan dukacita setelah hadirnya kesedihan maka dukacitalah yang -dengan taatnya- lebih dulu menghampiri panggilanku sedangkan kesabaran berjalan lamban seolah enggan memenuhi panggilanku.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.