aku, kota dan kampus ini
seseorang yang ingin hidup disini harus mempunyai sebuah pedang tajam bertangkur madu. pedang diperlukan untuk menyadarkan kita yang hanya ingin membuang-buang uang, waktu juga potensi kita. sementara madu dibutuhkan untuk mengatsi rasa sakit dikarenakan kesedihan dan kesusahan yang telah dan akan kita alami.
kota ini bukanlah tempat yang bersahabat, kampus ini juga bukan jaminan pasti untuk masa depan untuk mereka yang telah dilenakan oleh kebesaran namanya terlebih bagi mereka yang hanya ingin bersenang-senang. segala peradaban palsu kota ini bisa menegangkan dawai-dawai ketahanan jiwa kita hngga melewati batas ketahanannya. disini kita harus berangkat sebelum fajar menyingsing dan baru bisa pulang hanya setelah sang fajar tenggelam menuju peraduannya. kita bergulat dengan waktu yang terkadang membawa kita pada keadaan yang tidak menentu taupun keadaan yang justeru membuat waktu yang kita punya menjadi tidak menentu. kita harus bersabar dan juga tahan dengan segala macam waktu dan keadaan yang dihadiahkan.